My Diary.
to Share my Life Events

Motivation




        Pernahkah kita ketika sedang mengajarkan sesuatu kepada orang dan orang tersebut tiba-tiba kehilangan motivasinya? Nah kasus ini sering terjadi pada hampir semua orang terutama pada anak-anak yang hendak kita ajarkan mengenai beberapa hal. Seperti halnya yang terjadi pada saya dimana anak yang saya ajari mengenai pelajaran tiba-tiba tidak tertarik dengan pelajaran tersebut dan saya pun bertanya kepadanya mengenai apa yang terjadi, dan respond dia membuat saya terguncang. “Saya bosan” tutur dia, dan seketika respond saya langsung mengatakan “Kok kesel ya dek? Ngak pake “S” lg dek, pake “Z” sekarang dek”. Seketika dia pun langsung tertawa dan mengatakan ku anak alay. Disini saya makin melihat bahwa minat dia terhadap belajar materi ini semakin berkurang dan terpaksa saya percepat materi yang hendak dipelajarinya dan melanjuti kepada pelajaran yang lain. Materi saya percepat tetapi dalam benak ku hendak ku berpikir untuk melewatinya karena dia benar-benar tidak tertarik dengan materi ini. Solusi yang saya ambil adalah saya melihat bahwa dia masih berumur dibawah 10 dan segala tindakannya masih berdasarkan apa yang bisa membuat dia senang dan keinginannya masih simple. Pada pertemuan berikutnya ku ambillah sebuah jajanan kesukaannya yang bernama “Chit Chato” (Dilarang mengendors barang didalam sebuah blog). Kembali saya ulas mengenai materi yang tidak dapat dia mengerti, ku ulas kembali dan saya memberi dia sebuah permainan setelah penyampaian materi, apabila dia bisa menjawab pertanyaan saya mengenai materi yang sedang diajarkan maka dia akan mendapat hadiah yang sudah saya bawa khusus buat dia. Diapun merasa tersemangati karena disuguhkan dengan sebuah jajanan kesukaannya. Dari sanalah penyampaian materi berjalan dengan lancer dan baik. Setelah penyampaian materi saya beri dia soal mengenai apa yang telah dibahas. Soal pertama sampai ke empat saya berikan mengenai materi, pada soal kelima saya berkata padanya “Ini soal terakhir yah, kalau bisa jawab koko kasih permen sama Chit Chato 2 bungkus”, diapun bersemangat untuk bisa mencapai hadiah itu. Tetapi saya bermain-main dengannya dan memberikan sebuah soal yang berkaitan tetapi dengan kesuliatan yang lebih tinggi. Pertanyaannya pun ku lontarkan ke dia dan dia sedikit kebingungan ketika menjawabnya dan akhirnya dia menyerah. Disaat iinilah saya memberikan dia imbalan yang telah dijanjikan sebelumnya dengan tambahan beberapa permen karena dia sudah berusaha untuk mengetahui soal yang saya berikan. Dalam metode ini saya menggunakan apa yang dinamakan dengan metode Behavioral dimana tindakan dia dimotivasi oleh sesuatu yang dinamakan reward. Dimana saya menggunakan Chit Chato sebagai sebuah insentif external.
       Motivasi juga tidak hanya ada behavioral saja melainkan ada juga yang lain. Beberapa motivasi tersebut adalah humanistik, kognitif, dan sosial. Nah motivasi kognitif ini sendiri memiliki peran yang sangat penting dan motivasi ini sangat berlawanan dengan behavioral dimana motivasi ini sangat tidak mendukung adanya tekanan atau dorongan eksternal. Ketika seseorang ingin menjadi pintar motivasi kognitif memiliki peran dimana seseorang ini harus melakukan apa yang dia bisa atau apa yang dia miliki untuk dapat memenuhinya dan dia harus melakukannya dengan dorongan sendiri.

       Nah setelah membaca motivasi kognitif dan behavioral kita membahas tentang motivasi humanistik. Motivasi humanistic adalah sebuah motivasi dimana mereka memiliki keinginannya untuk bertindak sesuka mereka. Sebagai contoh agar dapat mengerti mari kita katakana seseorang bernama Mawar adalah seorang murid disebuah sekolah. Disekolahnya mawar bukanlah seorang anak yang pintar walaupun begitu Mawar adalah seorang anak pengusaha. Disetiap harinya mawar selalu diejek oleh teman-temannya karena tidak bisa mengerjakan beberapa soal yang telah diberikan oleh guru. Merasa tersinggung, Mawar kemudian bertekad untuk belajar dan akhirnya Mawarpun sudah bisa mengerti beberapa pelajaran yang diterangkan oleh gurunya dan temannya pun tidak begitu meledek dia lagi. Sekian motivasi humanistik,

         Sekarang mengenai motivasi sosial. Di motivasi sosial seseorang bertindak atau bersemangat melakukan sesutatu karena didorong oleh sesuatu yaitu dorongan untuk berhubungan dengan orang lain, menjaga sebuah hubungan dan mengakrabkan diri dengan seseorang. Agar dapat mengerti motivasi ini sebagi contohnya sebuah pengalaman saya. Dulu saya merupakan seseorang yang sangat membenci pelajaran inggris, guru yang menerangkan mata pelajaran itu bersifat hanya teacher centered dimana dia tidak menuntut kita untuk aktif. Karena hal tersebut saya menjadi malas untuk belajar inggris. Pada saat kenaikan kelas dan melihat guru saya digantkan oleh seorang guru baru saya tidak begitu berharap banyak karena mungkin dia akan melakukan apa yang guru sebelumnya lakukan juga. Tetapi, pada beberapa pertemuaan berikutnya saya melihat bahwa tipe pengajaran dia sangatlah berbeda dengan guru sebelumnya dimana guru yang sekarang menuntut kemengertian siswa dan keaktifan siswa. Sayapun menjadi bersemangat untuk mempelajari inggris karena guru tersebut memotifasi saya untuk belajar dan sampai sekarang saya masih juga belajar inggris walaupun tidak secara formal tetapi melalui beberapa pelajaran yang didapat dari internet. Itulah sebuah pengalaman saya. Dan sebagai sesuatu kesimpulan suatu motivasi adalah sesuatu yang sangat penting di kehidupan kita dimana tindakan kita akan semakin terpacu dengan adanya motivasi. Berikan suatu motivasi kepada seseorang bila ingin melihat hasil yang diharapkan dan hasil yang bagus.




Anthony Suyapmo Anthony Suyapmo Author