My Diary.
to Share my Life Events

Observasi Sutomo 2

Bab 1 Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu proses bagi seseorang untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Pendidikan sudah diterapkan dari masa nenek moyang manusia. Tidak ada kata terlambat dalam menempuh pendidikan. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Ada beberapa pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan bisa saja bermula dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.Pendidikan bisa diperoleh baik secarah formal dan nonformalPendidikan Formal diperoleh dalam kita mengikuti progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu intitusi, departemen atau kementerian suatu negara. Pendidikan non formal adalah pengetahuan yang didapat manusia (Peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari (berbagai pengalaman) baik yang dia rasakan sendiri atau yang dipelajarai dari orang lain (mengamati dan mengikuti).
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan , yang berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Bab 2 Landasan Teori
2.1 Mengelola Kelas Secara Efektif
           Manajemen kelas yang efektif memaksimalkan kesempatan belajar anak-anak. Para ahli dalam manajemen kelas mengungkapkan bahwa telah terjadi perubahan pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan sebelumnya lebih menekankan pembuatan dan penerapan peraturan dalam mengendalikan perilaku siswa. Pandangan terbaru lebih memfokuskan diri pada kebutuhan siswa dalam memelihara hubungan dan kesempatan untuk meregulasi diri. Manajemen kelas yang mengorientasikan siswa ke arah kepasifan dan kepatuhan dengan peraturan yang ketat bisa merusak keterlibatan mereka dalam pembelajaran yang aktif, tingkat pemikiran yang lebih tinggi, dan konstruksi sosial pengetahuan. Tren baru dalam manajemen kelas menempatkan lebih banyak penekanan pada pembimbingan siswa ke arah disiplin diri dan lebih sedikit penekanan pada pengendalian siswa secara eksternal. Dalam tren saat ini yang berpusat pada siswa, guru lebih dianggap sebagai pembimbing, coordinator, dan fasilitator. Model manajemen kelas yang baru tidak berarti masuk kedalam model yang permisif. Penekanan terhadap perhatian dan regulasi diri siswa tidak berarti bahwa guru melepaskan tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kelas.
2.2 Masalah-Masalah pada Kelas yang Besar dan Berpotensi Menimbulkan Kekacauan
Ø  Ruang kelas itu multidimensional, ruang kelas adalah tempat untuk banyak aktivitas yang berkisar dari aktivitas akademis sampai aktivitas sosial. Guru harus terus mencatat dan memantau perkembangan siswa.
Ø  Aktivitas terjadi secara bersamaan, banyak aktivitas kelas terjadi secara bersamaan.
Ø  Hal-hal terjadi dengan cepat, peristiwa-peristiwa seringnya terjadi dengan cepat di ruang kelas dan sering kali membutuhkan respon saat itu juga.
Ø  Peristiwa sering kali tidak dapat diprediksi, meskipun sudah merencanakan aktivitas hari itu dan sangat teratur, peristiwa yang tak terduga tetap akan terjadi.
Ø  Hanya ada sedikit privasi, ruang kelas adalah tempat umum dimana siswa mengobservasi bagaimana guru menangani masalah kedisiplinan, peristiwa yang tidak terduga, dan keadaan yang membuat frustasi. Sebagian besar dari apa yang terjadi pada seorang siswa diobservasi oleh siswa lain dan siswa membuat atribusi tentang apa yang terjadi.
Ø  Ruang kelas memiliki sejarah, siswa mempunyai kenangan tentang kejadian sebelumnya di kelas mereka. Mereka mengingat bagaimana guru menangani maslaah kedisiplinan sebelumnya, dimana siswa mendapatkan lebih banyak hak istimewa daripada siswa lain, dan apakah guru bertindak sesuai janjinya. Beberapa minggu pertama tahun ajaran sekolah adalah penting untuk menetapkan prinsip-prinsip manjemen kelas. 
Sifat kelas yang besar dan kompleks bisa menimbulkan masalah apabila kelas tidak dikelola secara efektif. Masalah seperti ini merupakan persoalan umum yang utama tentang sekolah. Kurangnya kedisiplinan dianggap sebagai masalah yang paling penting kedua, setelah kurangnya dukungan financial (Gallup Poll, 2004).

2.3 Strategi dan Tujuan Manajemen
            Manajemen kelas yang efektif bertujuan untuk:
Ø  Membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan lebih sedikit untuk perilaku yang tidak mengarah pada tujuan. Manajemen kelas yang baik akan membantu memaksimalkan waktu pembelajaran guru dan waktu belajar siswa.
Ø  Mencegah siswa mengembangkan masalah. Sebuah kelas yang dikelola dengan baik tidak hanya membantu perkembangan pembelajaran, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya masalah akademis dan emosional. Kelas yang dikelola dengan baik membuat siswa-siswa tetap sibuk dengan tugas yang aktif dan menantang, melakukan aktivitas yang membuat siswa menjadi terpikat dan termotivasi untuk belajar, serta menetapkan peraturan yang jelas yang harus diterima oleh siswa.
2.4 Gaya Penyusunan Ruang Kelas
Ø  Gaya Auditorium (auditorium style), semua siswa duduk menghadap guru. Susunan ini mencegah kontak siswa secara berhadap hadapan dan guru bebas untuk bergerak kemana pun didalam ruangan.
Ø  Gaya berhadap-hadapan (face-to-face style), siswa duduk menghadap satu sama lain. Gangguan dari siswa lain akan lebih tinggi daripada dalam gaya auditorium.
Ø  Gaya off-set (off-set style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya tiga atau empat) duduk di meja, tetapi tidak duduk berseberangan secara langsung dari satu sama lain. Gaya ini menghasilkan lebih sedikit gangguan daripada gaya berhadap-hadapan dan bisa efektif untuk aktivitas belajar yang kooperatif.
Ø  Gaya seminar (seminar style), siswa dalam jumlah besar (sepuluh atau lebih) duduk dalam susunan sirkuler, empat persegi, atau bentuk U.
Ø  Gaya kelompok (cluster style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya empat sampai delapan) bekerja dalam kelompok kecil yang berdekatan.
              2.5 Menjadi seorang komunikator yang baik
                  2.5.1 Komunikasi Verbal    
Ketika berbicara di dalam kelas dan dengan siswa,, salah satu hal terpenting yang harus diingat adalah untuk dengan jelas mengomunikasiskan informasi. Kejelasan berbicara sangatlah penting dalam pengajaran yang baik. Para ahli komunikasi merekomendasikan untuk mengganti pesan “Anda” dengan pesan “Saya” karena membantu untuk mengalihkan percakapan kea rah yang lebih konstruktif dengan mengungkapkan perasaan tanpa menilai orang lain. Kemudian aspek lain dalam komunikasi verbal melibatkan bagaimana orang-orang menghadapi konflik.
2.5.2 Komunikasi Nonverbal
Selain dengan berbicara, guru juga dapat berkomuniasi melalui bagaimana dia melipat tangan, melemparkan pandangan, menggerakkan mulut, menyilangkan kaki, atau menyentuh orang lain.

2.6 Menangani Perilaku Bermasalah
           Intervensi bisa dikarakteristisasikan sebagai minor atau moderat. Intervensi minor melibatkan penggunaan petunjuk nonverbal, membiarkan aktivitas tetap berjalan, mendekati siswa, mengalihkan perilaku, memberikan pembelajaran yang dibutuhkan, secara langsung dan tegas memberitahu siswa tersebut untuk menghentikan perilaku tersebut, serta memberi siswa sebuah pilihan. Intervensi moderat melibatkan tidak memberikan hak istimewa atau aktivitas yang diinginkan, mengasingkan atau memindahkan siswa, serta memberikan hukuman.
      Kekerasan adalah persoalan utama yang semakin meningkat di sekolah. Bersiaplah untuk tindakan agresif dari pihak siswa sehingga guru bisa dengan tenang menghadapinya. Berusahalah untuk emnghindari argument atau konfrontasi emosional.

Bab 3 Landasan Teori

3.1.   Rundown Kegiatan Observasi  (Jum’at, 31 Maret 2107)
·         07.45 s/d 08.00: Berdiskusi dengan dewan pengajar sebelum melakukan observasi.
·         08.00 s/d 08.15: Dewan pengajar membimbing siswa bernyanyi dan berbicara menggunakan bahasa mandarin.
·         08.15 s/d 08.30: Dewan pengajar memeberikan latihan pada siswa
·         08.30 s/d 09.15: Dewan pengajar membimbing siswa bernyanyi dan berbicara menggunakan bahasa indonesia.
·         09.15 s/d 09.30: Istirahat.
·         09.30 s/d 10.00: Tim observasi memberikan games kepada siswa.
·         10.30 s/d 11.00: Tim observasi memberikan beberapa pertanyaan pada siswa.
·         11.00                 : Selesai

3.2.   Sistematika Observasi
·         Kelompok tiba di TK Sutomo 2 pada pukul 07.40dan langsung menuju ruang kepala sekolah untuk melakukan diskusi dan meminta izin pemakaian kelas dengan tujuan untuk dapat melakukan sebuah observasi sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di sekolah.
·          Pukul 08.00 anak-anak sudah duduk rapi didalam kelas dan siap untuk belajar. Kelas dipimpin oleh dua dewan pengajar, salah seorang dewan pengajar membuka kelas dengan bernyanyi menggunakan bahasa mandari yang sepertinya sudah sangat dihafal oleh para siswa, karena mereka dapat mengikuti nyanyian dewan pengajar tersebut dengan baik.   

Dewan pengajar tersebut kemudian mengeluarkan buku panduan yang dimiliki semua siswa, lalu membimbing para siswa untuk mengeja menggunakan bahasa mandarin dengan alat bantu gambar yang sudah tersedia di buku panduan tersebut. Setelah itu dewan pengajar menjelaskan maksud gembar tersebut dengan metode cerita, adapun topik yang dibahas di bukunpanduan tersebut mengenai petir.
Setelah itu dewan pengajar kembali mengajak siswa untuk bernyanyi, tetap menggunakan bahasa mandarin, yang juga sudah dihafal dengan baik oleh para siswa.

·         Pukul 08.15 para siswa diberi latihan menulis dengan tulisan sambung seperti yang dicontohkan oleh dewan pengajar dipapan tulis. Setelah itu dewan pengajar juga memberika latihan menghitung kepada para siswa.



·          Pukul 08.30  anak-anak sudah siap melakukan latihan yang diberikan oleh dewan pengajar. Kelas kemudian dipimpin oleh dewan pengajar untuk bernyanyi, namun kali ini menggunakan bahasa indonesia akan tetapi beberapa siswa masih kesusahan untu mengikuti dikarenakan beberapa dari mereka menggunakan bahasa mandarin sebagai bahasa dasar dilingkungan keluarga mereka, akan tetapi tidak ada kendala yang sangat berarti karena beberapa murid yang mampu mengikuti dengan baik tetap bersemangat bernyanyi sehingga menutupi kekuranagn dari teman-temannya yang tidak lancar.
Kelas ini sangant cocok dijadikan sebagai contoh kelas multikultural, dikarenakan aanya perbedaan suku dan ras baik diantara dewan pengajar dan siswa, akan tetapi kelas tetap berjalan dengan baik tanpa membedan ras yang satu dengan ras yang lain, bahkan siswa mampu dalam beradaptasi dengan kehadiran tim observasi sekalipun berasal dari ras ataupun suku yang berbeda dengan siswa tersebut. Akan tetapi para siswa tetap mau bermain bersama personel dari tim observasi.
Setelah bernyanyi dewan pengajar bantuan buku panduan mengajak siswa untuk mengeja menggunakan bahasa indonesia, dengan tema yang sama yaitu petir, dan dengan metode yang sama juga. Hal ini juga membantu tim observasi yang tidak bisa berbahasa mandarin memahami apa yang diajarkan dewan pengajar pada sesi pertama kepada siswanya. Dan hali ini sekaligus membantu melatih para siswa yang masih belum terbiasa menggunakan bahasa indonesia.  Kemudian kelas kembali dilanjutkan dengan bernyanyi yang dipandu oleh dewa pengajar, tetap menggunakan bahasa indonesia.


·         Pukul 09.15 siswa beristirahat dan memakan bekal-bekal yang telah dibawa mereka dari rumah. Beberapa siswa ada yang disediakan oleh sekolah.


·         Pukul 09.30 siswa yang sudah selesai makan sudah bersiap untuk melanjutkan pelajaran. Kali ini tim observasi dipersilahkan oleh dewan pengajar untuk memimpin kelas, dan kesempatan ini tim observasi gunakan untuk memeberikan games. Dimana sebelum games dimulai tim observasi memnjanjikan hadiah bagi pemenang games.
Tujuan diadakan games adalah, (1) untuk melihat jiwa kompetitif para siswa terkait dengan hadiah yang diperebutkan, yang mana tim observasi mengiming-imingi siswa dengan coklat. (2) untuk melihat jiwa kejujuran yang ada pada siswa, yang mana tim observasi mempersilahkan siswa yang gagal untuk tidak mengikuti babak selanjutnya, tanpa diperintahkan oleh tim observasi.
Games dimulai dengan salah seorang tim dari tim observasi meminta siswa untuk berdiri dan kemudian menjelaskan games yang akan dimainkan, yakni games ‘Topi Saya Bundar”. Games dilakukan dengan menyanyikan lagu topi saya bundar dengan gerakan yang sudah diperagakan oleh tim observasi, akan tetapi pada saat bernyanyi tim observasi yang memimpin games akan memeperagakan gerakan yang salah. Apa bila ada siswa yang melakukan gerakan yang salah maka tim observasi akan mempersilahkan yang salah untuk duduk. Kemudian games dilanjtkan dengan siswa yang masih bertahan.
Beberapa siswa yang gagal tidak mau untuk duduk dikarenakan dua hal (1) siswa tidak mengerti dengan games yang dimainkan, yang diketahui dari raut wajah siswa yang kebingungan selama mengikuti games. (2) siswa menginginkan hadiah tersebut, yang diketahui dari aktifnya siswa mengikuti games akan tetapi ketika ia salah ia tak mau untuk duduk. Games diakhiri dengan pemberian hadiah kepada beberpa siswa yang mampu bertahan.



·         Pukul 10.30 tim obervasi melanjutkan kesempatan yang diberikan oleh dewan pengajar dengan memberikan quiz berupa teka-tekiguna melatih critical thinking mereka. Quiz yang diberikan berkaitan dengan buah-buahan dan hewan, dimana tim observasi yang memberikan quiz menjelaskan ciri-ciri dari buah atau hewan tersebut. Kemudian meminta siswa yang mengetahui jawabannya untuk mengangkat tangan sebelum menjawab. Siswa yang menjawab dengan benar kali ini diberi hadiah permen.



Siswa yang dalam kesempatan sebelumnya gagal mendapatkan coklat sangat antusias untuk menjawab teka-teki yang diberikan oleh tim observasi, bahkan mereka yang berhasil pada sesi games tak mau ketinggalan untuk menjawab pertanyaan. Sesi quiz pun diakhiri begitu permen yang disediakan habis, dan setiap siswa mendapat kesempatan untu menjawab.


·         Pukul 11.00 kegiatan observasi pun diakhiri dengan sesi foto bersama dengan siswa dan guru. Dilanjutakan dengan perginya ke ruang kepala sekolah untuk dapat mengucapakan kata terima kasih kepada kepala sekolah yang bersangkutan atas kerja samanya sehingga proses observasi dapat belajalan dengan lancar.

Testimoni ketika observasi:



Anthony: Gurunya ramah sampai mengantar kami ke kelas yang diajari olehnya. Anak muridnya KAWAII semua. Waktu ku membantu Fadhil dalam memberikan arahan kepada murid terhadap gamesnya, kami mengalami kesulitan karena mereka kurang fasi
Flo:Gurunya membantu kami berkomunikasi dengan anak anak dengan bahasa mandarin. Kami butuh belajar bahasa mandarin ahahaha.
Syifa:Keaktifan anak-anak yang bersemangat ingin mendapat coklat dan permen. Padahal sebelumnya ngak bersemangat mereka. Tapi mereka tetep juga lucu.
Fadhil:Biarpun mereka awalnya bingung mengikuti saya ketika bernyanyi dan mengikuti gerakan, tetapi mereka cukup aktif. Pertama-tama waktu diarahkan mereka semua bengong.
Fajri Zahara: anak anak sangat menyenangkan dan ramah pada kami, walaupun awalnya malu malu.
Farah: anak anaknya mau diajak bekerja sama, terumata urusan foto. Mereka sangat ramah pada kami. Waktu diteriaki “Ayok foto adik-adik” wuih… langsung semua ngumpul berderet hahaha.
Larasati: Wes keren lah anak-anak sutomo ini, walau kurang bisa bahasa Indonesia cuman pemantapan bahasa inggris, mandarin, dan cina mereka keren. Salut dah ama mereka.





Unknown Unknown Author

Psikologi pddk buat apa sih?

Sebenarnya apa gunanya belajar Psikologi Pendidikan?
Hellooowwww jangan keliru guys, kita sebagai calon sarjana psikolog ini juga harus belajar cara-cara untuk menghadapi murid juga loh. Untuk beberapa kasus dimana kita harus mengajarkan teman atau saudara kita mengenai sesuatu kita juga harus mengerti cara yang paling efisien untuk mengajari mereka. Dan untuk mengetahui cara itu bagaimana? Helooowww Kita kan belajar Psikologi pendiikan……
Nah dari sinilah kita mengerti, mungkin disuatu saat kita sedang mengajari ponakan kita mengenai tambah-tambah tetapi mereka tidak menanggapi dengan serius. BOOM… OPERANT CONDITIONING berperan disana. Beri dia sebuah reward untuk dapat bisa mengerjakannya. Sebagai contoh lainnya kita sering melihat bahwa banyak dari teman kita kehilangan motivasi. Kita dapat memberikan dorongan motivasi agar dia dapat bekerja kembali, berproduktif lagi. Itu yang dapat kita dapatkan ketika mempelajari Psikologi Pendidikan ini
Unknown Unknown Author

Multicultural??

Pendidikatan Multicultural

Sebelum kita membahas tentang pendidikan multicultural itu sendiri kita juga harus melihat masyarakat di sekitar kita. Apakah seseorang dari ras yang berbeda diterima oleh mereka? Apakah perbedaan diantara ras itu dihargai? Ketika kita melihat adanya tentang perbedaan ini kita seharusnya dapat menghargai tentang perbedaan itu. Karena setiap orang diciptakan berbeda, jikalau kita diciptakan semua sama tentunya hidup kita tidak akan banyak bewarna.
                Pendidikan multicultural adalah sebuah pendidikan dimana kita diajarkan untuk dapat menghargai perbedaan dan mewadahi beragam perspektif dari berbagai kelompok kultural. Didalam pendidikan ini kita diajarkan untuk dapat mengerti bahwa setiap manusia itu berbeda dan ktia harus menghargainya dan semua murid itu harus disama ratakan, tidak ada yang namanya orang hitam, cina, bule, dan lain sebagainya. Selain kita membahas tentang ras kita juga tidak boleh membedakan seseorang dari status ekonomi, gender, dan status sosial. Pembelajaran dari sebuah pelajaran juga seharusnya tidak boleh mengandung arti diskriminasi, rasisme, dan SARA. Larangan tersebut bukanlah membuat kita menjadi sensitive terhadap isu tersebut, malah seharusnya membuat kita lebih peduli dan lebih peka terhadap isu tersebut.

                Pendidikan multicultural adalah sebuah mata pelajaran dimana pembimbing harus mengajarkann hal yang relevan secara kultural kepada murid-muridnya untuk membuat pengajaran lebih efektif. Pendidikan multicultural mengajarkan kita untuk berpusat kepada isu, dimana murid-muridnya dilatih untuk dapat mengerti dan berpikir secara sistematis mengenai masalah yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial. Setelah kita mengajari anak mengenai permasalahan atau isu-isu yang beredar, kita juga harus mengajarkan mereka untuk dapat bekerja sama antar golongan yang berbeda. Sebagai contohnya seorang psikolog yang bernama Eliot Aronson mengembangkan sebuah konsep yang dinamakan Kelas Jigsaw. Kelas jigsaw ini merupakan kelas dimana sebagian dari murid-muridnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan dari setiap individu tertsebut yang memiliki latar belakang yang berbeda digabungkan menjadi sebuah tim yang akan ditugaskan oleh guru mereka untuk memperoleh sebuah tujuan yang sama.
                Sekarang pembahasan mengenai kontak personal dengan orang lain yang memilki latar belakang yang berbeda. Sebuah hubungan sangatlah penting untuk dapat membuat sebuah koneksi antar individu semakin erat, terutama bila mereka datang dari sebuah kelas yang berbeda. Jika terjadi sebuah kondisi dimana seseorang dari kelas yang berbeda bertemu dengan kelas yang berbeda juga sering kali kita melihat sebuah kecanggungan diantara mereka, terkadang juga kita melihat sebuah tembok yang tak terlihat berada diantara mereka. Nah, ketika hal ini terjadi sebuah percakapan mengenai keseharian dirumah dapat memecahkan tembok tersebut dan membuat mereka bertambah 1 teman dari sebuah golongan yang berbeda. Perspektif juga merupakan sebuah hal yang penting dalam pendidikan multicultural ini karena jika kita melihat seseorang dari sudut pandang kita sendiri maka misperception pun akan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu ketika kita menilai seseorang atau suatu tindakan maka kita harus melihat dari sudut pandang mereka juga. Bisa jadi dari sebuah etnis atau sebuah ras telanjang dan menunjukkan payu dara merupakan kewajaran, bahkan mereka menjunjung tinggi hal tersebut. Jika kita beradu pendapat dengan perspektif yang kita pertahankan maka kita akan pastinya kehilangan sesuatu.
                Bias, bias merupakan sesuatu yang wajar disetiap orang. Masing-masing persepsi seseorang juga dapat terbiaskan oleh sesuatu. Maka kita yang seharusnya menjadi seorang pengajar yang berlandaskan ilmu psikologi kita haruslah dapat mencegahnya dengan menaruh ruangan kelas dengan berbagai poster dimana isi poster itu berupa kata-kata motivasi dari setiap etnis yang berbeda, kita juiga dapat menaruh sebuah gambar dimana terdapat banyak orang dari kelompok yang berbeda bersatu untuk melakukan sesuatu, membantu siswa untuk menolak steriotip yang ada di masyarakat, dan yang terakhir dukunglah siswa untuk mengikuti sebuah kegiatan atau aktifitas yang dimana mereka akan bersosialisasi dengan etnis atau golongan lain. Pembuatan sebuah kegiatan charity merupakan alternatif dimana murid akan berinteraksi dengan individu lain dan membantu mereka dalam segi toleransi dan penghilangan bias.

                Sudah seharusnya setiap manusia sekarang untuk bangun dan memulai sebuah masyarakat yang produktif, yang dapat saling membantu antar sesama manusia walaupun berbeda Suku, Adat, Ras, dan Agama (SARA). Kita sebagai mahasiswa Psikologi juga harus memiliki peran untuk mendidik generasi berikutnya dalam membangun sebuah masyarakat yang ideal ini dimana perselisihan, pertikaian, dan permasalahan yang dilandaskan atau didasarkan oleh SARA menjadi hilang sehingga masyarakat dapat menerima perbedaan-perbedaan yang ada
Unknown Unknown Author

Apa itu Belajar?


Belajar
Apakah kita tahu tentang apa yang dimaksud dengan belajar itu? Apa kita tahu bahwa banyak cara atau metode belajar? Belajar sebenarnya apasih? Nah marilah kita membahas tentang belajar. Menurut anda belajar pastilah dimana kita membaca sebuah buku untuk dapat mengetahui sesuatu. Disitulah persepsi kita selama ini salah. Masyarakat berpikir bahwa belajar selalu menggunakan buku dan dituntutnya kita untuk dapat mengerti sesuatu. Belajar sebenarnya memiliki arti dimana ketika kita tidak mengerti sesuatu kemudian menjadi mengerti hal tersebut, itulah yang dinamakan belajar. Sebagai contoh kita ambil. Ketika kita diputuskan oleh pacar kita sendiri kita merasa sedih, kita merasa hampa, kita merasa tidak ada yang bakal mengerti diriku lagi, dan lain sebagainya. Tetapi ketika kita membuka mata kita, kita melihat bahwa masih ada dan masih banyak orang yang dapat mengerti kita. Seperti yang orang katakana “There’s still plenty of fish in the sea”, kata-kata tersebut memiliki arti, masih banyak kok cewek di dunia ini. Disanalah kita belajar untuk mengetahui bahwa dirinya bukan yang tepat untuk kita, kita belajar untuk melepaskan, kita belajar bahwa sannya sebuah hubungan itu tidak selamanya akan bertahan dan tidak selamanya haris dipertahankan. Berikut adalah sebuah contoh Belajar didalam dunia nyata. Nah, setelah mengetahui mengenai belajar marilah kita mengetahui arti dari Stimulus. Stimulus itu sendiri memiliki arti apa yang membuat kita bergerak atau apa yang merangsang kita. Hasil dari rangsangan atau stimulus itu adalah sebuah tindakan atau biasa disebut dengan Respond.
                Nah setelah kita mengetahui belajar itu marilah kita membahas tentang beberapa metode pembelajaran. Sebagai metode yang paling awal yaitu:
Classical conditioning atau yang beberapa orang menyebutnya pavlovian. Nah dalam metode ini sebuah stimulus dikaitkan dengan sebuah stimulus lainnya maka dia akan menghasilkan sebuah respon. Pengaitan Unconditioned stimulus akan dikaitkan dengan Neutral stimulus akan menghasilkan Unconditioned respond, bila dilakukan terus menerus maka dengan adanya sebuah Neutral stimulus saja maka UCR pun akan muncul. Kondisi tersebut akan berubah menjadi Conditioned Stimulus akan menghasilkan Conditioned respons. Yang diinginkan dari metode ini adalah agar sebuah respond dapat dimunculkan atau dikaitkan dengan sebuah stimulus sehingga penghilangan sebuah stimulus yang lainnya akan tetap dapat menghasilkan sebuah respon yang diharapkan. Sebagai contoh anjing Pavlov yang sudah terkenal, contoh lainnya adalah kita aggap bahwa “Mawar” adalah seorang anak yang terlahir di sebuah keluarga. Di dalam keluarga ini terdapat seorang ayah yang abusive terhadap anaknya. Ketika ayahnya pulang dari kerja dia akan membanting pintu dan langsung pergi ke ruangan Mawar untuk mencari dia dan memukulnya. Ketika mendengar bahwa ayahnya pulang Mawar akan segera bersembunyi. Jika kejadian ini diulang terus maka akan terjadi sebuah kejadian dimana. Bila pintu terbanting sendirinya, mawar yang berada dikamarnya akan langsung bersembunyi dan ketakutan. Jika kita jabarkan maka UCSnya adalah ayah yang abusive, Neutral stimulusnya adalah bantingan pintu, UCRnya adalah bersembunyi dan ketakutan. Ini adalah sebuah contoh dari classical conditioning
                Setelah pembahasan mengenai classical conditioning marilah kita membahas tentang Operant conditioning. Dalam operant conditioning pemantapan dari sebuah respond itu dikuatkan dengan adanya reward tertentu. Pembagian reinforcementnya ada 4. Marilah kita membahas mereka:
·        

●Fixed ratio

Fixed ratio adalah sebuah penguatan dimana seseosang akan diberikan hadiah bila pada point tertentu dia mencapai apa yang telah ditetapkan oleh si pemberi. Sebagai contoh pemberian permen kepada seseorang setiap dia mencuci piring 2x sehari.


·
●Variable ratio

Penguatan ini diberikan melalui imbalan dan imbalan ini akan diberikan ketika suatu ketetapan yang telah ditentukan tercapai. Tetapi pemberian tidaklah selalu akan diberikan tetapi pemberian ini akan diberikan melalui metode acak jika mereka dapat menyelesaikannya. Contoh, ketika kita melihat mesin slot di casino. Mesin slot itu menggunakan sebuah metode variable ratio dimana ketika kita memutar tuasnya kita ada kemungkinan untuk mendapatkan uang yang ada tetapi tidak selalu mendapatkannya ketika memutar tuas tersebut.

·
●Fixed interval

Penguatan ini bersifat periode, karena setiap masa tenggang yang telah diberikan dan pada saat batas waktu telah tercapai maka pemberian hadiahpun akan diberikan. Sebagai contoh, seorang anak yang akan diberikan makanan favoritnya setiap 2 minggu sekali.

·
● Variable interval

Penguatan ini adalah penguatan yang setidaknya relatif bagus dibandingkan penguatan yang lainnya karena penguatan ini menggunakan waktu untuk pemberian hadiah tetapi waktu tersebut tidak ditentukan.berikut grafik yang menunjukkannya



Setelah kita mempelajari tentang penguatan atau reinforcement kita juga harus mengerti kapan kita harus memberikan penguatan ini agar penguatan berjalan dengan efisien dan sesuai dengan yang kita harapkan. Penguatan agar dapat berjalan dengan baik kita perlu memerhatikan timing dan konsistensi penguatan. Timing adalah sesuatu yang penting dimana kita perlu mengetahui kapan saatnya yang tepat untuk memberikan penguatan, jika penguatan diberikan pada waktu yang tidak tepat maka penguatan itu sendiri akan gagal. Selain timing konsistensi penguatan juga harus diperhatikan, bila kita sedang mendidik seorang anak untuk menggosok gigi dimalam hari maka kita harus menekankan dia agar menggosok gigi dan bila dia tidak menggosok gigi maka kita juga harus menghukum dia dan bukan memaafkan dia karena tindakan ini.
Unknown Unknown Author

Motivation




        Pernahkah kita ketika sedang mengajarkan sesuatu kepada orang dan orang tersebut tiba-tiba kehilangan motivasinya? Nah kasus ini sering terjadi pada hampir semua orang terutama pada anak-anak yang hendak kita ajarkan mengenai beberapa hal. Seperti halnya yang terjadi pada saya dimana anak yang saya ajari mengenai pelajaran tiba-tiba tidak tertarik dengan pelajaran tersebut dan saya pun bertanya kepadanya mengenai apa yang terjadi, dan respond dia membuat saya terguncang. “Saya bosan” tutur dia, dan seketika respond saya langsung mengatakan “Kok kesel ya dek? Ngak pake “S” lg dek, pake “Z” sekarang dek”. Seketika dia pun langsung tertawa dan mengatakan ku anak alay. Disini saya makin melihat bahwa minat dia terhadap belajar materi ini semakin berkurang dan terpaksa saya percepat materi yang hendak dipelajarinya dan melanjuti kepada pelajaran yang lain. Materi saya percepat tetapi dalam benak ku hendak ku berpikir untuk melewatinya karena dia benar-benar tidak tertarik dengan materi ini. Solusi yang saya ambil adalah saya melihat bahwa dia masih berumur dibawah 10 dan segala tindakannya masih berdasarkan apa yang bisa membuat dia senang dan keinginannya masih simple. Pada pertemuan berikutnya ku ambillah sebuah jajanan kesukaannya yang bernama “Chit Chato” (Dilarang mengendors barang didalam sebuah blog). Kembali saya ulas mengenai materi yang tidak dapat dia mengerti, ku ulas kembali dan saya memberi dia sebuah permainan setelah penyampaian materi, apabila dia bisa menjawab pertanyaan saya mengenai materi yang sedang diajarkan maka dia akan mendapat hadiah yang sudah saya bawa khusus buat dia. Diapun merasa tersemangati karena disuguhkan dengan sebuah jajanan kesukaannya. Dari sanalah penyampaian materi berjalan dengan lancer dan baik. Setelah penyampaian materi saya beri dia soal mengenai apa yang telah dibahas. Soal pertama sampai ke empat saya berikan mengenai materi, pada soal kelima saya berkata padanya “Ini soal terakhir yah, kalau bisa jawab koko kasih permen sama Chit Chato 2 bungkus”, diapun bersemangat untuk bisa mencapai hadiah itu. Tetapi saya bermain-main dengannya dan memberikan sebuah soal yang berkaitan tetapi dengan kesuliatan yang lebih tinggi. Pertanyaannya pun ku lontarkan ke dia dan dia sedikit kebingungan ketika menjawabnya dan akhirnya dia menyerah. Disaat iinilah saya memberikan dia imbalan yang telah dijanjikan sebelumnya dengan tambahan beberapa permen karena dia sudah berusaha untuk mengetahui soal yang saya berikan. Dalam metode ini saya menggunakan apa yang dinamakan dengan metode Behavioral dimana tindakan dia dimotivasi oleh sesuatu yang dinamakan reward. Dimana saya menggunakan Chit Chato sebagai sebuah insentif external.
       Motivasi juga tidak hanya ada behavioral saja melainkan ada juga yang lain. Beberapa motivasi tersebut adalah humanistik, kognitif, dan sosial. Nah motivasi kognitif ini sendiri memiliki peran yang sangat penting dan motivasi ini sangat berlawanan dengan behavioral dimana motivasi ini sangat tidak mendukung adanya tekanan atau dorongan eksternal. Ketika seseorang ingin menjadi pintar motivasi kognitif memiliki peran dimana seseorang ini harus melakukan apa yang dia bisa atau apa yang dia miliki untuk dapat memenuhinya dan dia harus melakukannya dengan dorongan sendiri.

       Nah setelah membaca motivasi kognitif dan behavioral kita membahas tentang motivasi humanistik. Motivasi humanistic adalah sebuah motivasi dimana mereka memiliki keinginannya untuk bertindak sesuka mereka. Sebagai contoh agar dapat mengerti mari kita katakana seseorang bernama Mawar adalah seorang murid disebuah sekolah. Disekolahnya mawar bukanlah seorang anak yang pintar walaupun begitu Mawar adalah seorang anak pengusaha. Disetiap harinya mawar selalu diejek oleh teman-temannya karena tidak bisa mengerjakan beberapa soal yang telah diberikan oleh guru. Merasa tersinggung, Mawar kemudian bertekad untuk belajar dan akhirnya Mawarpun sudah bisa mengerti beberapa pelajaran yang diterangkan oleh gurunya dan temannya pun tidak begitu meledek dia lagi. Sekian motivasi humanistik,

         Sekarang mengenai motivasi sosial. Di motivasi sosial seseorang bertindak atau bersemangat melakukan sesutatu karena didorong oleh sesuatu yaitu dorongan untuk berhubungan dengan orang lain, menjaga sebuah hubungan dan mengakrabkan diri dengan seseorang. Agar dapat mengerti motivasi ini sebagi contohnya sebuah pengalaman saya. Dulu saya merupakan seseorang yang sangat membenci pelajaran inggris, guru yang menerangkan mata pelajaran itu bersifat hanya teacher centered dimana dia tidak menuntut kita untuk aktif. Karena hal tersebut saya menjadi malas untuk belajar inggris. Pada saat kenaikan kelas dan melihat guru saya digantkan oleh seorang guru baru saya tidak begitu berharap banyak karena mungkin dia akan melakukan apa yang guru sebelumnya lakukan juga. Tetapi, pada beberapa pertemuaan berikutnya saya melihat bahwa tipe pengajaran dia sangatlah berbeda dengan guru sebelumnya dimana guru yang sekarang menuntut kemengertian siswa dan keaktifan siswa. Sayapun menjadi bersemangat untuk mempelajari inggris karena guru tersebut memotifasi saya untuk belajar dan sampai sekarang saya masih juga belajar inggris walaupun tidak secara formal tetapi melalui beberapa pelajaran yang didapat dari internet. Itulah sebuah pengalaman saya. Dan sebagai sesuatu kesimpulan suatu motivasi adalah sesuatu yang sangat penting di kehidupan kita dimana tindakan kita akan semakin terpacu dengan adanya motivasi. Berikan suatu motivasi kepada seseorang bila ingin melihat hasil yang diharapkan dan hasil yang bagus.




Unknown Unknown Author